Surat Pertama Untukmu

                                                         Senin, 17 September 2012

 

Halo, kamu yang di sana..

Setelah sekian lama aku ingin menulis surat untukmu, baru terwujud sekarang karena bingungnya aku mau menulis apa. Karena aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ini memang bukan surat terbaik yang bisa aku tulis. Bahkan ini tak aku tulis dengan tanganku sendiri, rasanya kurang resmi. Tapi aku berharap, surat ini tidak akan mudah hancur sebagaimana jika aku menulisnya di kertas untukmu.

Ada beberapa tujuanku menulis surat ini. Pertama, aku ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Ya, walaupun aku tahu, aku tidak akan pernah cukup berterimakasih kepadamu, khususnya karena mau menungguku selama ini. Menungguku hingga tertidur, walaupun aku sangat sulit sekali bila disuruh tidur. Menungguku bersiap-siap, untuk dijemput, untuk turun dari mobil, dan banyak lagi karena begitu lelet aku ini. Menungguku selesai makan, seberapa lama pun, walau aku makan seperti seribu tahun, dan masih kamu berkata bahwa itu tidak masalah. Menunggu..menunggu..menunggu.

Kedua, untuk 'menunggu' yang terakhir. Aku ingin berterimakasih sebesar-besarnya, karena sabarmu, mau menungguku hingga siap. Kamu dan aku tahu apa artinya. Tapi dengan segala kerelaan aku ingin kamu memahami bahwa seberapa baikpun menurut kita masa depan yang kita rancangkan, sungguhlah kita tahu bahwa Tuhanlah yang terdahsyat dalam urusan hidup ini. Percayakanlah hidupmu pada sutradara terhandal hidup ini, jangan lagi kamu menungguku..

Aku bukannya tidak ingin --aku sangat ingin-- kamu menungguku. Tapi, menepis keegoisan.. aku pikir ada baiknya kamu tidak menungguku, jangan menghamburkan waktu yang kamu punya. Yang terbaik sudah disediakan bagimu, pada waktu-Nya yang sempurna. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Tidak ada yang lain.

Maaf dan terimakasih untuk waktunya, untuk mau membaca surat ini, untaian kata yang tidak sempurna ini.

Inti dari surat ini adalah, aku mengasihimu.

Tertanda,

Amani Lauretta

Posted